Sunday, August 26, 2018

Paus Fransiskus Tindak Tegas Pelaku Pelecehan Seksual

VIPBANDARQ.BIZ
Dublin - Korban-korban dari skandal pelecehan seksual oleh oknum pemuka Gereja Katolik mengimbau Paus Fransiskus agar bersikap tegas terhadap pelaku predator seks selama lawatannya ke Irlandia.Paus mulai melakukan kunjungan pada Sabtu (25/8) ke Irlandia. Negara itu berubah banyak sejak Paus Johanes Paulus II melawat ke sana pada 1989, dan telah menjadi jauh lebih sekuler menyusul skandal-skandal pelecehan seksual oleh imam yang mulai dibongkar pada 2005.

Dikutip dari laman VOA Indonesia, Minggu (26/8/2018), Paus Fransiskus berkunjung saat krisis pelecehan seksual muncul di Amerika, Chili, dan Australia, dan peristiwa-peristiwa ini telah mengingatkan rakyat Irlandia akan skandal yang mirip dan dilakukan oleh imam dan uskup di negara tersebut.Banyak korban pelecehan, keluarga dan aktivis, menyerukan kepada Paus agar mengambil lebih banyak tindakan dan tidak sekedar bertemu secara privat dengan korban.
Pemrotes akan berkumpul di Dublin sementara Paus memimpin Misa pada Minggu (26/8), dan mereka berencana untuk mendesak Paus agar mengambil tindakan konkrit terhadap pelecehan seks.

Salah seorang korban pelecehan seks Irlandia bernama Marie Collins, memberitahu sebuah konferensi yang disponsori Vatikan pada Jumat bahwa Gereja Katolik harus memberlakukan mekanisme yang kuat guna menuntut tanggung jawab dari imam yang melakukan pelecehan.
"Siapa saja di Vatikan yang menghalangi upaya perlindungan untuk anak-anak harus dituntut pertanggung-jawabannya pula," kata Collins, seorang mantan anggota dewan penasihat pelecehan yang dibentuk oleh Paus Fransiskus.

Vatikan telah mengumumkan, Paus Fransiskus akan bertemu dengan korban-korban dari pelecehan seksual oleh imam, dan katanya, dia juga akan berkunjung ke Katedral St. Mary di Dublin untuk mendoakan para korban.Paus Fransiskus menerbitkan sebuah surat edaran kepada umat Katolik di seluruh dunia yang mengutuk "kejahatan" pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pastor dan sikap gereja Katolik yang menutup-nutupinya. Ia juga menuntut pertanggungjawaban.
Otoritas Vatikan menerbitkan surat edaran sebanyak tiga halaman itu pada hari Senin (20/8/2018) sebagai tanggapan terhadap pengungkapan terbaru di AS mengenai pelanggaran selama beberapa dekade yang dilakukan oleh Gereja Katolik.

Paus Fransiskus memohon maaf atas rasa sakit yang diderita para korban dan mengatakan umat Katolik pada umumnya harus dilibatkan dalam upaya untuk membasmi pelecehan dan upaya menutup-nutupinya. Demikian seperti dikutip dari ABC Indonesia.
Dia mengecam budaya mementingkan reputasi diri sendiri oleh para pemimpin Gereja Katolik yang telah disalahkan atas krisis ini, di mana para pemimpin gereja diduga lebih mementingkan reputasi mereka daripada keselamatan anak-anak.

"Dengan rasa malu dan pertobatan, kami mengakui sebagai komunitas gerejawi bahwa kami tidak berada di tempat yang seharusnya, bahwa kami tidak bertindak tepat waktu, menyadari besarnya dan beratnya kerusakan yang terjadi pada begitu banyak kehidupan," kata Paus dalam suratnya.
"Kami telah tidak peduli dengan anak-anak kecil; kami meninggalkan mereka."

Surat itu diedarkan menjelang perjalanan Paus akhir pekan ini ke Irlandia, sebuah negara mayoritas Katolik di mana kredibilitas gerejanya telah dirusak oleh skandal.
Skandal yang melibatkan gereja telah memasuki babak baru setelah pengungkapan di AS bahwa salah satu kardinal terpercaya Paus, pensiunan uskup agung Washington Theodore McCarrick, diduga melakukan pelecehan seksual dan melecehkan anak di bawah umur sebagaimana juga sebagaimana juga biarawan dewasa.Selain itu, laporan Juri Agung di Pennsylvania di AS pekan lalu melaporkan bahwa setidaknya 1.000 anak menjadi korban dari sekitar 300 pendeta selama 70 tahun terakhir, dan bahwa generasi uskup gereja gagal berulang kali untuk mengambil tindakan dalam melindungi jemaat mereka atau menghukum para pelaku.

VIPBANDARQ.BIZ


Letusan Gunung Tambora Mempengaruhi Kekalahan Napoleon Bonaparte

VIPBANDARQ.BIZ
Dampak letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, memang luar biasa. Selain menewaskan sekitar 100.000 orang, material vulkanik yang dimuntahkan ketika erupsi juga mencapai langit Eropa, membuat benua itu mengalami tahun tanpa musim panas sepanjang 1816.
Tidak hanya itu, cuaca dan temperatur Bumi pun berubah. Abu vulkanik bermuatan listrik yang berada di atmosfer menyebabkan cuaca buruk secara global. Ini semua terjadi hanya dua bulan sebelum pertempuran yang mengubah sejarah benua Eropa.

Dr. Matthew Genge dari Imperial College London menemukan bahwa abu vulkanik bermuatan listrik dapat mengakibatkan terjadinya 'arus pendek' di listrik ionosfer --tingkatan langit di atas atmosfer, di mana terjadi pembentukan awan.Peristiwa ini kemudian menghasilkan hujan lebat di seluruh Eropa dan menyebabkan kekalahan Napoleon Bonaparte.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Geologi, Rabu 22 Agustus 2018, mengkonfirmasi adanya kaitan antara letusan dan kekalahan tentara Napoleon Bonaparte.
Dalam makalahnya, Dr. Genge menjelaskan letusan Gunung Tambora dapat menghempaskan abu ke atmosfer pada ketinggian yang lebih dari yang diperkirakan sebelumnya, yaitu bisa mencapai hingga 100 kilometer di atas tanah."Sebelumnya, para ahli geologi mengira kalau abu vulkanik terperangkap di lapisan langit yang lebih rendah karena semburan material vulkanik naik secara ringan dan perlahan," ujar Dr. Genge, seperti dikutip dari Deutsche Welle, Sabtu (25/8/2018).
"Namun penelitian saya menunjukkan jika abu dapat melesat ke tingkat lapisan atmosfer atas karena kuatnya daya listrik."

Serangkaian percobaan Dr. Genge membuktikan, kekuatan elektrostatik dapat mengangkat abu jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan daya apung abu itu sendiri.
Ia menciptakan sebuah model untuk menghitung seberapa jauh abu vulkanik dengan muatan listrik bisa melesat ke langit, dan menemukan bahwa partikel yang lebih kecil bisa mencapai ionosfer selama erupsi besar."Batu dan abu vulkanik dapat memiliki muatan listrik negatif. Efeknya sangat mirip seperti dua magnet didorong menjauh satu sama lain jika kutub mereka sama," ujarnya.
Hasil eksperimen ini juga konsisten dengan catatan sejarah dari letusan lainnya.

Pencatatan cuaca pada tahun 1815 bukan hal yang umum dan sangat jarang dilakukan. Jadi, salah satu referensi yang ia pakai untuk menggambarkan keadaan cuaca pada saat pertempuran adalah dari novel Victor Hugo yang berjudul Les Mirables. "Hugo bercerita tentang Pertempuran Waterloo: "Langit yang sangat gelap tidak seperti biasanya, cukup gelap untuk meruntuhkan dunia.' Sekarang kita selangkah lebih dekat dalam memahami peran Tambora di Pertempuran ini."

Untuk menguji teorinya, Dr. Genge juga memeriksa catatan cuaca tahun 1883 setelah terjadi letusan gunung api lainnya di Indonesia yaitu Krakatau.
Data menunjukkan suhu rata-rata jadi lebih rendah dan berkurangnya curah hujan segera setelah letusan dimulai. Selain itu, curah hujan secara gobal juga lebih rendah selama letusan bila dibandingkan periode sebelum atau sesudahnya.
VIPBANDARQ.BIZ


Paus Fransiskus Tindak Tegas Pelaku Pelecehan Seksual

VIPBANDARQ.BIZ Dublin - Korban-korban dari skandal pelecehan seksual oleh oknum pemuka Gereja Katolik mengimbau Paus Fransiskus agar be...

Search This Blog

Pages

Popular Posts