Monday, March 26, 2018

Sandal Unik dari Jepang, Bentuknya Mirip Kaki Sapi

Tokyo - Inspirasi fesyen bisa datang dari mana saja. Desainer asal Jepang satu ini misalnya, terinspirasi membuat alas kaki dari kaki sapi.
Adalah Walpurgis, toko online berbasis di Jepang yang menjual pakaian dan aksesoris dengan harga fantastis. Baru-baru ini mulai menjual sandal kayu dengan hak yang mirip kaki sapi.
Sandal yang dinamai sandal Hooves ini dibuat tanpa penyangga dibagian belakangnya. Bentuknya, memang membuat bingung.
Ditambah lagi sol kayu yang membuat pemakai kesulitan berjalan normal. Namun sandal ini dihiasi dengan pita kain berwarna merah muda untuk memberikan kesan fenimin.

Dilansir dari Odditycenteral (26/3/2018), Walpurgis membuka pre-order sejak September 2017 dan sudah dapat dibeli saat ini.
Melalui situsnya, kamu bisa memilih tiga warna pita berberda, antara putih, merah maroon dan hitam. Sejak dijual bebas, sandal ini membuat penasaran warganet dan penduduk Jepang umumnya.
Meski terkesan aneh, sandal Hooves ini tidak murah. Sepasang sandal Hooves ini dijual 43.200 Yen atau setara Rp 5,6 juta.

VIPBANDARQ



Kisah Nyata Jasad Perempuan yang Beranak dalam Kubur

VIP BANDRAQ

Roma - Ini bukan adegan dalam film horor Beranak dalam Kubur, melainkan kisah nyata. Pada 2010, sekelompok ilmuwan Italia menemukan jasad seorang perempuan berusia 1.400 tahun di Kota Imola, Bologna. Kerangka tersebut dalam kondisi relatif utuh, sementara ada tanda-tanda cedera di bagian kepalanya.
Namun, ada hal aneh yang dijumpai pada jasad yang diduga dimakamkan pada tahun 600 hingga 700 Masehi atau awal Abad Pertengahan tersebut, yakni keberadaan janin bayi di antara dua kakinya.

Analisis para ilmuwan dari Universities of Ferrara and Bologna menyimpulkan, janin tersebut berusia 38 minggu. Calon bayi tersebut dilahirkan sebagian: kepala dan bagian atas tubuh ditemukan di luar rongga panggul ibunya, sementara kakinya berada di dalam.
Belakangan, seperti dilaporkan dalam jurnal World Neurosurgery, para ilmuwan mengonfirmasi, itu adalah bukti kasus beranak dalam kubur (coffin birth) yang langka di mana seorang perempuan hamil melahirkan bayi setelah kematiannya. Seperti dikutip dari situs Ancient Origins, meski ada kemungkinan perempuan tersebut meninggal dunia di tengah persalinan, nyaris tak masuk akal ia dimakamkan dalam kondisi seperti itu.

Ahli bio-arkeologi dari University of Otago, Sian Halcrow, yang tak terlibat dalam studi, sepakat bahwa itu adalah kasus melahirkan di dalam kubur.
Seperti dikutip Forbes, ia juga menjelaskan mengapa kasus seperti itu bisa terjadi. "Terbentuknya gas secara ekstrem di tengah proses dekomposisi 'memaksa' janin keluar dari rahim sang ibu yang telah meninggal," kata dia.
Sementara itu, seperti dikutip dari Inquisitr, seorang dokter ahli kandungan dari San Francisco, Jen Gunter, menawarkan penjelasan senada.
"Saya menduga bahwa yang terjadi adalah tekanan dari gas yang menumpuk, dan janin yang meninggal dilahirkan melalui pemutusan (rupture)," kata dia.
Tak sekadar dugaan kasus beranak dalam kubur, para peneliti juga menemukan hal menarik dalam tubuh jenazah di makam kuno Italia. Temuan para peneliti Italia bukanlah kejadian pertama. Meski demikian, kasus yang ditemukan di Italia tergolong tak biasa.
Sebab, cedera di kepala sang ibu, yang berbentuk bulat dengan diameter 5 milimeter, diyakini dipicu trepanasi (trepanation), sejenis operasi tengkorak yang populer pada masa lalu, yang tujuannya adalah untuk menurunkan tekanan darah pada kepala.
Trepanasi/kraniotomi adalah suatu tindakan membuka tulang kepala yang bertujuan mencapai otak untuk tindakan pembedahan definitif.

Prosedur seperti itu diyakini berasal dari masa 12 ribu tahun lalu, bermula di Afrika Utara, sebelum akhirnya tersebar ke seluruh dunia.
Para ilmuwan menduga, perempuan tersebut mungkin memerlukan trepanasi untuk menyembuhkan eklamsia -- kondisi di mana seorang wanita hamil mengalami kejang atau kejang karena peningkatan tekanan darah --yang ia alami.
Para peneliti juga meyakini, perempuan tersebut sempat hidup selama berhari-hari setelah menjalani operasi, tapi sekitar seminggu kemudian ia mengembuskan napas penghabisan.
Korban diduga kuat dimakamkan dalam kondisi hamil. Dan, ketika jasadnya terdekomposisi atau mengalami peluruhan, ia "melahirkan dalam kubur". Seperti dilaporkan Katy Meyers Emery dalam artikel berjudul, "New Morbid Technology: Coffin Birth", ada sejumlah kasus melahirkan dalam kubur yang tercatat dalam sejarah. Meski, kebenarannya belum dipastikan.

Sebuah catatan paroki dari Abad ke-17, menulis, "Pada 20 April 1650, telah dimakamkan Emme, istri Thomas Toplace, yang diketahui melahirkan seorang anak setelah dia dimakamkan selama dua jam."
Sementara, catatan sejarah oleh Bonet menggambarkan seorang wanita, yang meninggal dalam kondisi hamil di Brussels pada 1633. Tiga hari kemudian, janin dalam kondisi tak bernyawa, ditemukan "tergantung di antara paha".
Kejadian lain dicatat oleh sejumlah dokter dan sejarawan. "Richter of Weissenfels, pada tahun 1861, melaporkan kasus seorang wanita yang meninggal setelah mengalami kejang. Dan, 60 jam setelah kematiannya, janin berusia 8 bulan keluar."
Sementara, seorang bernama Stapedius dilaporkan menulis kepada seorang temannya tentang janin yang ditemukan meninggal di antara paha seorang wanita yang meninggal tiba-tiba karena penyakit akut.

Sementara, Veslingius menceritakan tentang seorang wanita yang meninggal karena epilepsi pada 6 Juni 1630. Dua hari kemudian ia dilaporkan melahirkan.
Kasus serupa paling tua yang diketahui terjadi pada Zaman Batu di Siberia. Kerangka seorang ibu ditemukan bersama dua anak kembarnya, yang salah satunya masih di dalam rahim, di kuburan Paleolitik dekat Danau Baikal.
Meski laporan penemuan menyebutnya sebagai kasus seorang ibu yang meninggal di tengah persalinan, kondisi makam mengarah pada dugaan kasus melahirkan di dalam kubur.
Sementara, kasus teranyar dilaporkan pada awal tahun ini.
Pada Januari 2018, seperti dikutip dari Ancient Origins, jasad seorang perempuan 33 tahun dari Mbizana, Afrika Selatan, melahirkan di dalam peti jenazah. Bayi tersebut lahir dalam kondisi tak bernyawa.

Nomveliso Nomasonto Mdoyi, nama perempuan tersebut, melahirkan setelah 10 hari meninggal dunia. Kejadian tersebut diketahui oleh staf perusahaan pengurus pemakaman yang sontak kaget bukan kepalang.
"Saya sudah menjalankan bisnis ini selama 20 tahun dan belum pernah mendengar ada seorang perempuan yang telah meninggal melahirkan," kata pemilik perusahaan Lindokuhle Funeral, Fundile Makalana, Sementara, sang ibu, Mandzala Mdoyi, mengatakan, putrinya meninggal dunia dalam kondisi hamil sembilan bulan. "Pertama, aku merasa hancur saat putriku meninggal dunia. Dan kini, aku mengalami hal paling mengagetkan dalam hidupku saat tahu ia melahirkan 10 hari setelah dinyatakan tewas. Apa artinya semua ini?" kata dia.
Sejumlah dokter memberikan penjelasan, janin tersebut bisa keluar dari rahim sang ibu sebagai akibat dari kontraksi dan relaksasi otot-otot selama proses kematian, dan juga akibat bakteri yang memicu perubahan pada jasad.

VIPBANDARQ


















Tuesday, March 13, 2018

Terbukti Membunuh Istri, Pria Ini Mengaku Habisi Jelmaan Setan

VIPBANDARQ

Quezon City - Seorang pria di Filipina tega membunuh istri sendiri secara sadis. Ia berkoar bahwa wanita pendamping hidupnya itu adalah jelmaan setan. Meski demikian, sama sekali tak ada bukti yang menguatkan, apalagi membenarkan dalih perbuatan kejamnya itu.
"Aku membunuhnya untuk menyelamatkan kita semua, karena dia adalah setan," kata pelaku, Orlando Estrera, seperti dikutip dari Asia One, Selasa (13/3/2018). Polisi masih terus mengusut kasus tersebut, tak serta-merta mendengarkan apa kata tersangka.

Pria berusia 43 tahun itu mengaku membunuh istrinya, yang telah mendampinginya selama 16 tahun. Tak hanya menghilangkan nyawa korban, ia juga tega memutilasi dan menguliti anggota tubuh wanita tersebut.
Peristiwa itu diketahui oleh tetangga pelaku, yang sama-sama tinggal di kawasan Barangay Holy Spirit, Quezon City, Filipina.
Para saksi segera menghubungi pihak berwenang pada Minggu, 11 Maret 2018, setelah mereka melihat tersangka membuang apa yang terlihat sebagai potongan bagian tubuh manusia.

Saat diwawancara pada Senin, 12 Maret, Estrera mengatakan kepada wartawan media Filipina bahwa dia tidak menyesal telah membunuh istrinya yang bernama Hiede.
Lagi-lagi, ia berdalih istrinya yang berusia 46 tahun adalah jelmaan setan. Estrera bahkan menuding, perempuan itu mengandung benih iblis di rahimnya.
"Dia menyusahkan saya karena dia adalah setan. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia adalah setan," kata Estrera yang mengoceh tak karuan saat diwawancara wartawan.
Selain menyelidiki kasus pembunuhan sadis itu, polisi juga akan mendatangkan ahli jiwa.

"Dia akan menjalani pemeriksaan psikologis dan kejiwaan oleh dokter yang kompeten untuk mengetahui kondisi mentalnya," kata Kepala Inspektur Guillermo Eleazar, Direktur Quezon City Police District (QCPD).
Kepala Inspektur Eleazar mengatakan kepada wartawan bahwa ketika dia mewawancarai tersangka sebelumnya, Estrera tidak menyebutkan apa pun soal setan maupun iblis.
Tersangka mengaku kepadanya, ia membunuh istrinya karena kebencian yang bikin suram pernikahan keduanya yang sudah berlangsung 16 tahun.

"Dia tidak menunjukkan belas kasih atau penyesalan," kata Eleazar. "Dia berbahaya bagi masyarakat dan tidak boleh menyatu dengan masyarakat umum."
Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh Unit Deteksi Investigasi Kriminal QCPD, Estrera negatif terhadap obat-obatan terlarang. Walaupun ia mengaku menggunakan sabu-sabu pada tahun 2002.

Estrera dan pasangannya bekerja untuk sebuah sekolah Katolik swasta di Quezon City, Filipina. Sang istri, Hiede, adalah kepala bagian perawatan. Mereka pindah ke Metro Manila dua tahun lalu dari Davao Oriental.
Komandan Kepolisian Wilayah Batasan, Inspektur Rossel Cejas mengatakan, kepala desa dan petugas menggerebek rumah Estrera pada Minggu, 11 Maret 2018, sekitar pukul 17.00.
Tindakan itu dilakukan menyusul laporan tetangga yang melihat tersangka bersimbah darah, membuang pakaian, dan potongan tubuh istrinya yang dimutilasi, termasuk bagian tangan, di luar rumah mereka.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa ditemukan juga barang bukti berupa pisau dapur berukuran 13 inci dengan jejak darah pada pegangannya. Selain itu, ada palu berlumuran darah yang ditemukan di bawah tubuh korban.
Estrera mengatakan kepada wartawan bahwa istrinya sedang berbaring di lantai saat ia membunuh korban.
Polisi belakangan memastikan bahwa korban tidak hamil. Pasangan itu tidak punya anak.
Sejauh ini Estrera yang ditahan di QCPD, tidak termasuk dalam daftar pemakai obat-obatan terlarang di Filipina.
Kepala bagian pembunuhan QCPD, Inspektur Senior Elmer Monsalve, mengatakan bahwa sebelumnya Hiede pernah berulang kali menuduh sang suami memukulinya. Namun, dia tidak mengajukan tuntutan terhadapnya.

VIPBANDARQ





Penemuan Jasad Bayi dalam Botol Hebohkan Jepang

VIPBANDARQ

Tokyo - Petugas pembasmi rayap menemukan beberapa jasad bayi yang ditempatkan dalam botol di sebuah rumah yang sedang direnovasi di Tokyo, Jepang.
Menurut laporan kantor berita Kyodo pada Selasa (13/3/2018), bayi-bayi tersebut diawetkan dalam botol dengan tali pusar yang masih belum dipotong.
Sekitar tiga atau empat botol berisi jasad bayi ditemukan di bawah lantai rumah yang telah ditinggalkan selama tiga tahun.

"Jasad-jasad bayi tersebut disimpan dan tampaknya diawetkan dengan formalin," demikian laporan harian tersebut.
Pemilik rumah sebelumnya dilaporkan merupakan seorang dokter kandungan. Rumah tersebut kemudian dibeli dan direnovasi oleh pembeli barunya sampai penemuan mengejutkan ini terjadi.
Saat ini, polisi masih menyelidiki laporan tersebut. Identitas pemilik rumah sebelumnya juga masih dalam proses pencarian polisi.
Sementara kasus penemuan jasad bayi dalam botol ini masih diselidiki, polisi masih belum bisa dimintai keterangan.


VIPBANDARQ















Paus Fransiskus Tindak Tegas Pelaku Pelecehan Seksual

VIPBANDARQ.BIZ Dublin - Korban-korban dari skandal pelecehan seksual oleh oknum pemuka Gereja Katolik mengimbau Paus Fransiskus agar be...

Search This Blog

Pages

Popular Posts